Lekoi, Penyedap rasa tradisional Dayak Punan Adiu.

Sudah sejak lama Punan Adiu mengenal dan menggunakan Lekoi sebagai bumbu masak. Lekoi harus memiliki perhatian khusus karena merupakan penyedap rasa alami yang dapat menggantikan penyedap rasa instan.

Lekoi, Pycnarrhena cauliflora adalah kelas Liana, keluarga Menispermaceae. Dapat ditemukan di dataran rendah dengan ketinggian 100 – 150 mdpl. Dayak Kenyah di Kayan Mentarang, Kalimantan Utara dan Dayak Iban, Kalimantan Barat menyebut Lekoi dengan nama Sengkubak. Masyarakat Dayak Di Sabah, Malaysia juga menggunakan Lekoi sebagai bumbu masak.

Mereka menggunakan bagian daun dari lekoi yang memiliki rasanya seperti penyedap rasa. Mereka memasukkan dedaunan ke dalam piring/wadah, menumbuk 3-4 daun atau iris menjadi potongan-potongan kecil. Biasanya digunakan untuk memasak ikan atau sayur. Agar dapat digunakan lebih lama lagi, daun harus dibersihkan, ditumbuk atau iris sampai potongan kecil, dikeringkan dan disimpan dalam wadah bersih. Daun Lekoi dalam pengolahannya digunakan untuk menghasilkan rasa manis saat memasak sayur dan untuk menghilangkan rasa pahit untuk sayuran tertentu.

Saat ini, pemuda Dayak Punan tidak menyadari dengan penggunaan Lekoi. Hal ini karena tidak ada tukar informasi dari tetua ke pemuda. Penggunaan Lekoi yang jarang oleh masyarakat disebabkan keberadaannya yang jauh di hutan. Juga diakibatkan tersedianya penyedap rasa instan dalam berbagai kemasan yang mendorong masyarakat untuk menggunakan penyedap rasa instant tersebut. Sampai saat ini masyarakat masih memanen Lekoi di hutan. Budidaya Lekoi dibutuhkan untuk memperkaya dan mempermudah dalam memanennya.