Menelusuri Madu Hutan Lestari: Kunjungan Lapang ke Desa Lonca, Sulawesi Tengah

Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)
Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)

Di balik lebatnya hutan Sulawesi Tengah, terdapat sebuah desa yang terletak di tengah-tengah hutan yaitu Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Di desa ini, tersimpan praktik pengelolaan madu hutan secara berkelanjutan. Pada 5–8 Februari 2025, NTFP-EP Indonesia membersamai mahasiswa dari Australia, Nicholas Garden Trott —yang tergabung dalam program pertukaran pelajar oleh ACICIS (Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies) — melakukan kunjungan ke desa tersebut untuk melihat langsung bagaimana masyarakat memanen madu hutan. Perjalanan menuju Lonca bukan hal mudah melalui perjalanan darat selama lima jam melintasi jalanan berbatu dan hutan belantara dari Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah. Setibanya di Desa Lonca, sambutan hangat dari Kepala Desa dan masyarakat setempat langsung mencairkan suasana.

Setibanya di Desa Lonca, terdapat pelatihan petani yang diadakan bersama organisasi lokal setempat yaitu IMUNITAS. Momen ini menjadi kesempatan awal untuk mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat dan peran madu hutan dan komoditas hutan lain dalam perekonomian lokal. Malam harinya, kami mulai mewawancarai para petani madu, yang dengan antusias bercerita tentang proses panen hingga pemasaran produk mereka. Pada 6 Februari 2025, kami diajak menyusuri hutan untuk menyaksikan langsung pemanenan madu. Dengan perlindungan sederhana dan teknik tradisional secara lestari, para petani menggunakan asap untuk mengusir lebah tanpa membakar sarang. Mereka hanya memanen sebagian sarang, membiarkan sisanya agar koloni lebah dapat kembali dan membangun ulang—praktik yang mencerminkan prinsip keberlanjutan.

Wawancara mahasiswa bersama petani madu hutan Lonca Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)
Wawancara mahasiswa bersama petani madu hutan Lonca
Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)

Setelah dipanen, madu disaring tanpa perasan agar tidak tercampur kotoran, lalu dikemas dalam botol dan dijual seharga Rp150.000 untuk ukuran 500 ml. Sayangnya, tantangan utama masih terletak pada pemasaran. Madu umumnya dijual kepada tamu, warga yang memesan, dan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat, namun belum memiliki akses pasar yang lebih luas. Kunjungan ini membuktikan bahwa dengan pengetahuan, pendampingan, dan komitmen, masyarakat lokal bisa menjadi pelaku utama dalam menjaga alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Proses pemanenan dan penyaringan madu hutan Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)
Proses pemanenan dan penyaringan madu hutan
Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)
Foto bersama petani madu hutan Lonca Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)
Foto bersama petani madu hutan Lonca
Foto oleh: NTFP-EP Indonesia (2025)


Leave a Reply

two × 1 =